Please, JagaJarak! Bukan Dekatkan Jarak – Ok, kali ini Saya akan menjelaskan mengapa harus
jaga jarak? Bukan mendekatkan jarak. Karena jarak akan mendekatkan mata turun
ke hati.
Dengan mendekatkan
jarak kepada lawan jenis yang bukan mahrammu. Akan membuat satu langkahmu
menuju zina. Percaya atau tidak? Kalau belum percaya jangan praktik, namun
perhatikan sekitarmu yang duduk bersebelahan dengan temannya. Masihkah ada rasa
ingin dekat atau jauh? Jika merasa jauh, maka membantumu dalam menjahuhi zina.
Mengapa tidak
mendekatkan jarak? Karena dari jarak dekatmu kepadaku, membuatku hati ini
berdebar semakin cepat. Seperti suara piston mobil saat melaju dengan cepat. Itulah
suara hati bila aku berjumpa denganmu, saat nafsu melabuhi pikiranku. Sehingga cukup
jarak diantara kita.
Saat dirimu
melabuhi pikiranku, hingga wajahmu selalu terbayang olehku. Dan dirimu pun
beragumen bahwa
“Kamu kenapa sih jaga jarak denganku? Sampai Aku sentuh Kamu, dan Kamu langsung menghindar.Kan Kita hanya teman dekat saja, bukan orang yang sedang pacaran.”
Percayalah,
dari sanalah Aku meragukan dirimu untuk menjadi sosok spesial. Karena dirimu
menganggapku sebagai teman dekat, bagaikan Friend Zone yang kehadirannya tak
selalu diabadikan. Dan dari dekatlah, Aku takut langkahku menuju tusuk besi
yang panas. Bagaimana Aku bahagia denganmu? Jika dirimu belum menjadi sosok
yang halal untukku.
“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211.)
Dari hadits
ini saja sudah menjelaskan bahwa begitu kerasnya ancaman perbuatan tersebut. Yang
dimaksudkan diancam dalam hadits di atas adalah menyentuh wanita. Sedangkan, bila
Aku bersalaman atau bejabat tanganmu saja sudah termasuk dalam perbuatan
menyentuh. Lalu bagaimana Aku bisa Bahagia? Maka jaga jarak yuk.
Bagaimana Aku
bahagia denganmu? Jika Aku melihatmu saja menimbulkan syahwat. Apalagi dekat
padamu saja dapat menyentuh dan bersalaman, tentu godaannya lebih berat
daripada pandangan mata. seperti Dilan yang berat jika jauh dengannya, karena
belum memakai label halal. Mungkin Dilan akan segera menghalalkanmu dengan
menemui orang tuamu.
Namun,
bolehkah Aku mendekatkan kepadamu sekali saja melalui media sosial. Dengan begitu
Aku bisa mendekatkanmu tanpa ada sentuhan sama sekali. Meskipun tanpa ada
sentuhan saja dapat menimbulkan zina hati, yang menimbulkan perasaan yang tak
diperlukan. Bagaimana Aku bahagia? Jika dari emoticonmu saja membuatku semakin
takut.
Mengapa dirimu
selalu jaga jarak, meski melalui media sosial saja? Karena dengan meringankan
satu perkara saja, sudah menimbulkan ribuan cara syaitan menghasut manusia
untuk berbuat zina. Bagaimana Aku bahagia? Jika Aku mengikuti langkahmu saja,
syaitan sudah melakukan cara agar manusia tidak peduli dengan syariat islam. Maafkan diriku jika tak sesuai denganmu, maka ikutilah pesan untuk pengguna media sosial.
Mengapa Aku
takut dekat kepadamu? Karena, ketika Allah melarang Pacaran. Pas Aku disakiti
akan menangis dan mengadu.”Yaa Allah, cobaan apa ini? Kenapa harus Aku?” Pada
siapa Aku mengadu? Apakah Aku pantas mengadu seperti itu? Sedangkan Aku mengadu
pada hal yang buruk dihadapan Allah.
Jika Aku
dekat kepadamu, apakah Kamu akan siap dengan panasnya neraka? Sedangkan, panas
dunia saja sering mengeluh dan mengadu kepada Allah agar memberikan awan. Sebagai
pelindung dari panas, atau pohon yang rindang.
Maka, Aku
mohon padamu.”Please, Jaga Jarak! Jangan dekati jarak.” Karena aku ingin
menemukan kebahagian yang diridhai oleh Allah bukan kepadamu. Kamu hanyalah
manusia sama sepertiku yang akan mencari pilihan sendiri antara dekat dengan
jarak, atau menjauhi jarak. Hidup adalah pilihan.


Wah,, barakallah Nanauu,,, semangat nulis terus Naauu
BalasHapusSemangat nau
BalasHapusMasyaa Allaah semangat selalu berkarya ka nauu 😊💖
BalasHapusdengan dalih teman, terkadang kita suka lupa akan jarak yaa. Terima kasih remindernya, Nau :)
BalasHapusselalu motivasi lagi dan lagi kak
BalasHapus