Kebijaksanaan itu
seperti toko, semua itu gratis. Yang diperlukan maka diambil, jika tidak
diperlukan maka jangan ambil. Kenapa? Karena memberatkan. Nasehat pun sama, ada
seseorang yang menasehati kita. Seperti,”berbuat jujurlah, karena jujur
mendekatkan ketenangan”. Dengan spontan pasti nggak setuju dengan nasehat
tersebut,”Lu, nuduh gue ya.” Terbawa perasaan.
Dakwah pun sama, dakwah
itu adalah bagaimana cara seni kita mencintai orang. Atau bahan bakar dari
dakwah adalah cinta. Maka kita harus tahu sebagai pendakwah, mulai dari titik
ini terlebih dahulu. Titik yang bahwa apa yang kita lakukan mendekatkan kepada
Allah. Maka Allah itu menyuruh kita peduli pada manusia. Pemahaman dasar seorang
Pendakwah, dakwah itu agar mencintai manusia dan pingin kebaikan manusia.
Maka apa yang kita punya
baik dari al Qur’an dan as Sunnah, maka berikan kepada manusia. Dan berharap
agar ada kebaikan dari al Qur’an dan as Sunnah. Seperti al Qur’an dan as Sunnah
yang telah memberikan pula.
Merasa tidak bila saat
taat kepada Allah, merasa tenang? Ketenangan ini pun tidak bisa diprofit oleh
materi, karena ada yang mendapatkan materi belum tentu tenang. Tapi, ketika
mendapatkan agama, mengetahui siapa dirinya, dan mengetahui kehidupan
setelahnya. Contoh bila kamu menjadi non muslim dan dikabarkan bahwa hidup tak
lama lagi. Maka apa yang akan dilakukan?
Dan bagaimana jika kamu
muslim, mengerti akan kehidupan selanjutnya, dan hidup tak lama lagi. Apa yang
akan dilakukan? Tentunya lebih semangat lagi untuk berbuat baik, tidak hanya
pencitraan di mata orang. Gimana agar bukan cucu kamu tidak hanya mengambil
kebaikanmu? Bukan hanya mengenal saya seorang baik? Di dalam islam hanya ada
satu yaitu amal jariyah. Dakwah. Itu yang membuat kita berdakwah.
Karena kita benci akan
kehidupan setelah mati, karena kita benci yang kemungkinan memiliki dosa
banyak, dan karena kita benci kemungkinan berakhir di neraka. Naudzubillah. Maka
kita selalu berbuat dan berpikir,”Bagaimana cara agar bermanfaat buat saya,
keluarga, teman, dan sekitarnya? Dan bermanfaat hingga selamanya.” Maka dibuatlah
video, buatlah masjid, mencoba membenahi kedhaliman yang ada dan
sebagainya. Supaya apa? Dakwah itu tidak
memberikan kepada diri kita sendiri, namun diberikan kepada semua orang.
Karena itulah seorang
pendakwah itu tidak pernah komplain segala sesuatu, tidak pernah komplain ketika
dihina, tidak pernah komplain ketika sudah kehilangan waktu mereka dan tidak
pernah komplain kehilangan harta mereka. Karena mereka tau,setiap yang mereka
lakukan itu akan bermanfaat dan akan ditukar dengan hal yang berharga. Yaitu adalah?
Surga.
Maka dari situlah bila
sudah paham, akan bagaimana basic dalam dakwah. Mencintai manusia, takut di
Yaumil Qiyamah menjadi orang merugi, dan kita berdakwah seperti ini. Maka tidak
ada satu pun orang yang menghentikan dalam dakwah, kecuali pemahamannya
berubah. Kalau pemahaman berubah, maka dikit demi sedikit akan mementingkan
dunianya, dikit demi sedikit memanfaatkan jama’ahnya, dan dikit demi sedikit
takut menyatakan kebenaran. Ini menjadi masalah.
Dakwah itu orang tidak
punya komplain. Yang menjadi pertanyaan,”Apakah semua orang senang dikasih tau yang
baik?” Jawabannya nggak. Siapa yang terganggu bila dikasih tau yang baik di
zaman Nabi? Jawabannya Abu Jahal, Abu
lahab. Mengapa mereka merasa terganggu? Karena kenikmatan mereka diambil
setelah diterapkan syariat/keadilan. Maka kedhaliman akan hilang.
Itulah resiko dalam
dakwah, maka dakwah itu tidak sendiri. Karena ulama terdahu berdakwah juga
pernah mengalaminya. Pertanyaannya adalah masih berdakwah atau tidak?


Posting Komentar
Silahkan menyapa, jika ada salah kata maka komentarlah
Karena sangat bermanfaat bagiku untuk memperbaiki
Saya ucapkan terima kasih :D