Berada di Zona Nyaman, bagaikan burung di dalam sangkar. Berkehidupan
setiap harinya sama seperti hari berikutnya. Yang terpikir juga hanya itu saja,
tiada gerakan untuk mengembangkan dan meneliti apapun. Alhasil pun tetap begitu
saja, tiada perubahan sama sekali. Mau sampai berada di zona nyaman?
Mulai dari masa anak-anak, tiada manusia yang menginginkan
anaknya berada di zona nyaman. Setiap manusia, mengingkan anaknya berkembang
dan senangtiasa berada di zona tidak nyaman. Karena, di luar sana penuh dengan
hal baru dan pastinya lebih menantang. Untuk mengembangkan pengetahuan yang
akan didapatkan di zona yang belum pernah ia temui.
Orang tua pun menginginkan di zona tidak nyaman, meski harus
mengorbankan apa yang ia punya. Untuk menghadapi segala sesuatu dil luar sana. Namun,
dengan demikian akan merasakan betapa dunia ini sangat menarik untuk
dipelajari. Sehingga perlu adanya persaingan antar orang, agar ada perubahan
yang menjadikan generasi lebih baik. Tidak terpuruk dalam sangkar yang
membelenggu.
Orang yang jomblo pun ingin keluar dari zona nyaman, dengan
ia keluar daro zona tersebut. Ia akan merasakan perjuangan untuk mendapatkan restu
dari calon mertua, belum juga mecari “Aisyah”, apalagi mencari “maisyah”, dan
masih banyak lagi yang akan dicari. Belum lagi kalau mendapatkan calon mertua
yang killer, kalau tetap setia di zona nyaman. Yang ada dikick dari daftar
calon yang didambakannya.
Memang ada ya yang bersedia jadi jomblo selamanya? Pasti
nggak mau, menyia-nyiakan pasangan yang menurut anda sangat menarik. Apalagi kalau
pasangannya memiliki ilmu agama yang baik, dan hafidz/ah. Duh untuk ditinggal
aja, rasanya seperti membuang kartu emas di jalan.
Udah keluar aja dari zona
nyaman, sediakan zona yang lebih menantang untuk dicoba, dan berani ambil
tindakan untuk segera meraihnya. Jangan mau ditinggal, kalau memang itu terbaik
dan bermanfaat bagimu.
Kereen....
BalasHapus